Penegak Kebenaran

Melatih diri untuk terus menuntut ilmu dan memberikan informasi yang sesuai dengan ajaran Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi. Berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan dengan harapan akan menjadi Penegak Kebenaran yang diridloi Allah SWT.

Pengusung Peradaban

Menjadikan madrasah, pesantren, dan tempat pendidikan lainnya sebagai tempat thalabul ilmi agar terbentuk generasi muda yang kuat, cerdas, dan taqkwa sehingga suatu saat dapat menjadi mujahid masa depan dan menjadi Pengusung Peradaban yang bermoral dan berakhlaq Islami.

Penerang Kegelapan

Bekerja keras untuk selalu mengamalkan dan mengimplementasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan lain sebagai salah satu kewajiban muslim dengan harapan dapat menjadi Penerang Kegelapan. Berbagi informasi dalam kebaikan dan takwa serta saling menasihati dalam kebenaran

Memperkuat Aqidah

Melatih generasi muda sedini mungkin melalui berbagai media pendidikan exact dan non-exact sebagai bekal hidup di masa depan untuk mewujudkan penjuang masa depan yang mandiri, kuat, disiplin, dan amanah.

Disiplin

Menyalurkan bakat dan mengembkangkan kemampuan generasi muda melalui berbagai kegiatan positif dengan harapan dapat tertanam sikap persaudaraan, persahabatan, dan disiplin.

Search

Bagaimana terkait dengan hukum gambar/lukisan dan patung dalam Islam ?



Bagaimana terkait dengan hukum gambar/lukisan dan patung dalam Islam ?

Jawab :
Hadis-hadis tentang larangan gambar memang banyak, sebagai mana kasus memahami hadis-hadis isbal, perlu penelitian yang mendalam. Tahapan metodologinya
1. Menghimpun semua hadis tentang gambar dan patung
2. Meneliti mana hadis-hadis yang mutlaq dan muqoyyad
3. Memasukan yang mutlaq pada yang muqoyyad.
Misal hadis mutlaq
عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّي إِنْسَانٌ إِنَّمَا مَعِيشَتِي مِنْ صَنْعَةِ يَدِي وَإِنِّي أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَا أُحَدِّثُكَ إِلَّا مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ مُعَذِّبُهُ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ أَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تَصْنَعَ فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ كُلِّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ رُوحٌ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ سَمِعَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ مِنْ النَّضْرِ بْنِ أَنَسٍ هَذَا الْوَاحِدَ
Dari Sa'id bin Abi Al Hasan berkata; Aku pernah bersama Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu ketika datang seorang kepadanya seraya berkata; "Wahai Abu 'Abbas, aku adalah seorang yang mata pencaharianku adalah dengan keahlian tanganku yaitu membuat lukisan seperti ini". Maka Ibnu 'Abbas berkata: "Aku tidaklah menyampaikan kepadamu perkataan melainkan dari apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang Beliau bersabda: "Siapa yang membuat gambar lukisan, Allah akan menyiksanya hingga dia meniupkan ruh (nyawa) kepada gambarnya itu dan sekali-kali dian tidak akan bisa mendatangkanhya selamanya". Maka orang tersebut sangat ketakutan dengan wajah yang pucat pasi lalu berkata: "Bagaimana pendapatmu kalau aku tidak bisa meninggalkannya kecuali tetap menggambar?" Dia (Ibnu 'Abbas) berkata: "Gambarlah olehmu pepohonan dan setiap sesuatu yang tidak memiliki nyawa". Berkata, Abu 'Abdullah Al Bukhariy: Said bin Abi 'Arubah mendengar dari An-Nadhar bin Anas sendirian. (H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/82)
Hadis diatas berisi larangan dan ancaman bagi yang menggambar/melukis, kecuali yang bernyawa. Dan hadis larangan lainnya yang setema, misalnya
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ وَقَالَ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ قَالَتْ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ
Dari Aisyah radliallahu 'anha skembalinya Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam dari safar, waktu itu saya telah membuat pembatas (satir) dari kain yang bergambar dalam ruanganku, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya beliau langsung memotongnya sambil bersabda: "Sesungguhnya orang-orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang membuat sesuatu yang menyamai ciptaan Allah." Aisyah melanjutkan; "Kemudian saya membuatnya menjadi satu bantal atau dua bantal." (H.R. Bukhari, sahih al-Bukhari, No. 5954)

Hadis yang muqoyyad terkait patung dan gambar
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُمْ تَذَاكَرُوا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ فَذَكَرَتْ أُمُّ سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ كَنِيسَةً ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَهُ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ ذَكَرْنَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ بِمِثْلِ حَدِيثِهِمْ
Dari Aisyah radhiyallahu'anhu bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan gereja yang mereka lihat di Etiopia Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam yang didalamnya terdapat gambar-gambar. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Sesungguhnya mereka itu apabila ada seorang laki-laki shalih di antara mereka lalu dia meninggal, maka mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid, dan mereka menggambar laki-laki tersebut. Mereka itu adalah sejelek-jeleknya makhluk di sisi Allah pada hari kiamat." Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari Aisyah radhiyallahu'anhu "Bahwa mereka saling menyebutkan hadits dari Rasulullah ketika beliau sakit, lalu Ummu Salamah dan Ummu Habibah menyebutkan sebuah gereja" kemudian dia menyebutkan hadits semisalnya.Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari Aisyah radhiyallahu'anha dia berkata, "Para istri nabi Shallallahu'alaihiwasallam telah menyebutkan kepada kami sebuah gereja yang kami lihat di tanah Habasyah yang diberi nama Mariyah" semisal hadits mereka. (Hr. Muslim, Sahih Muslim, 2/66-67)
Terkait patung
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ فَيُسَرِّبُهُنَّ إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي
Dari Aisyah radliallahu 'anha dia berkata; "Aku pernah bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku juga mempunyai teman-teman yang biasa bermain denganku, apabila Rasulullah shallaallahu'alaihi wa sallam masuk, mereka bersembunyi dari beliau. Sehingga beliau memanggil mereka supaya bermain bersamaku." (H.R. Bukhari, sahih al-Bukhari, No. 5665)
Dari sekian keterangan dengan memasukan yang mutlaq pada yang muqoyyad serta menganalisis illat pengharaman maka, pada dasarnya gambar dan patung itu mubah saja, maksud larangan gambar/patung tersebut adalah
1. Gambar yang dilarang adalah
A. Gambar atau patung yang dipastikan disembah orang
B. Gambar atau patung yang di duga kuat disembah orang
Adapun sebagai tambahan, diluar konteks hadis diatas terkait gambar juga tergantung konten dan tujuannya. Jika gambar kontennya pornografi, maka tentu haram. Begitu juga jika tujuannya menggambar untuk kesombongan apalagi untuk menyaingi ciptaan Allah misalnya. (Gin)



Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Apakah disirkan atau dijaharkan?



Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Apakah disirkan atau dijaharkan?
Deni Solehidin

Pertanyaan :
Baca bismillah ketika shalat bolehkah secara sir? Jadi ketika menjadi imam di masjid dulunya saya pakai basmalah dan saya jaharkan. Tapi sekarang setelah saya mendengar Rasul lebih sering secara sir, lalu saya ikuti. Tapi sekarang saya dipermasalahkan, katanya tidak benar yang saya lalukan, dan saya tidak diperbolehkan jadi imam. Mohon penjelasannya ustadz.
Paijo, Pematang Siantar

Jawaban :
Untuk permasalahan di atas, terdapat beberapa keterangan mengenai bacaan basmalah baik dari yang berpendapat disirkan maupun yang dijaharkan. Untuk pendapat yang disirkan diantaranya hadits shahih yang bersumber dari Anas bin Malik sebagai berikut :
 عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dari Anas RA, dia berkata, "Saya pernah shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Ustman RA, dan saya tidak mendengar seorangpun dari mereka yang membaca, 'Bismillahirrahmaanirrahiim' {Muslim 2/12}
زَادَ مُسْلِمٌ: لَا يَذْكُرُونَ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا. وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ: لَا يَجْهَرُونَ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.- وَفِي أُخْرَى لِابْنِ خُزَيْمَةَ: كَانُوا يُسِرُّونَ. وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ النَّفْيُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ، خِلَافًا لِمَنْ أَعَلَّهَا.
Muslim menambahkan: ‘mereka tidak membaca ‘Bismilahirahmanirahim’ pada permulaan bacaan shalat dan tidak juga di akhirnya. Di dalam riwayat Ahmad, An Nasa'i, dan Ibnu Khuzaimah yang sama bersumber dari Anas disebutkan, “mereka tidak mengeraskan bacaan ‘Bismilahirahmanirahim’.
Secara mafhum  difahami bahwa mereka bukannya tidak membacanya sama sekali tetapi tidak membacanya secara jahr sebagaimana  dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas juga disebutkan, ‘Mereka membacanya dengan sirr –tidak keras-. (Subulus Salam, 2/191).
Hadits ini merupakan dalil bagi mereka yang mengatakan bahwa bacaan basmalah tidak dibaca dengan keras, baik pada awal basmalah maupun pada ayat setelah basmalah, berdasarkan ungkapan hadits, 'dan tidak pula di akhirnya. 'Yang maksudnya ialah bacaan Al-Qur'an setelah bacaan surat Al-Fatihah. Dan mereka yang berpendapat bahwa basmalah dibaca pada awal Al-Fatihah mengatakan bahwa maksud dari ungkapan mereka bertiga tidak mengeraskan basmalah ialah mereka membaca dengan suara lirih, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar (Subulus Salam, 2/192).
Namun menurut sumber yang sama yaitu dari Anas bin Malik dan dari sahabat-sahabat yang lain yaitu di antaranya Abu Hurairah, Ibn Umar, dan Ibn Abbas serta murid-muridnya yaitu Atho’, Thowus, Mujahid, Sa’id bin Jubair dan Ikrimah, bahwa Rasulullah saw. membaca dan menjahrkan basmalah. Sebagai berikut :
عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ مَا تَدْرِي مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
Dari Anas RA, dia berkata, "Pada suatu hari Rasulullah SAW berada di antara kami, tiba-tiba beliau memejamkan mata {seperti orang mengantuk}, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum, lalu kami bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang menyebabkan anda tertawa?" Beliau menjawab, "Tadi telah turun ayat kepadaku." Kemudian beliau membaca, "Bismillaahirrahmaanirrahiim, Innaa a'thainaakal-kautsar, fa shalli li rabbika wanhar, innasyaani'aka huwal abtar." {Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami memberikan kepadamu Al Kautsar. Maka dirikanlah shalat kerena Tuhanmu dan berkurbanlah, sesungguhnya orang yang membencimu adalah terputus dari rahmat Allah}. Kemudian beliau bertanya, "Tahukah kamu apa Kautsar itu?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui". Beliau bersabda, 'Al Kautsar adalah sebuah telaga yang dijanjikan oleh Tuhan kepadaku yang berisi kenikmatan yang banyak sekali Itulah yang didatangi oleh umatku pada hari kiamat, yang bejananya sebanyak hitungan bintang. Kemudian ada umatku yang dilarang mendekatinya, lalu aku katakan, 'Ya Tuhan! Sesungguhnya dia adalah umatku! Maka Allah menjawab, 'Kamu tidak tahu bahwa mereka itu telah membuat ajaran baru sepeninggalmu {Muslim 2/12}
Hadits di atas, walau pun dibacakan oleh Rasulullah saw. Bukan pada waktu shalat, tetapi menunjukkan bahwa Rasulullah saw. Membaca basmalah untuk permulaan surah.
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ } بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ { يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ
dari Qatadah ia berkata; Anas pernah ditanya, "Bagaimankah bacaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?" Ia pun menjawab, "Bacaan beliau adalah panjang." Lalu ia pun membaca: "BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM." Anas menjelaskan, "Beliau memanjangkan bacaan, 'BISMILLAH' dan juga memanjangkan bacaan, 'ARRAHMAAN' serta bacaan, 'ARRAHIIM.'" (Bukhori, 6/241).
Hadits di atas secara sharih menunjukkan bahwa Anas mendengar bacaan Rasulullah saw., yang berarti bacaan basmalah pun dijaharkan.
أَبُو سَلَمَةَ قَالَ: سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ: " أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسْتَفْتِحُ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَوْ: بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ لَتَسْأَلُنِي عَنْ شَيْءٍ مَا أَحْفَظُهُ، وَمَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَحَدٌ قَبْلَكَ، قُلْتُ: أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ؟ قَالَ: نَعَمْ "
Dari Abu Salamah ia berkata, Saya bertanya kepada Anas bin Malik :”Apakah Rasulullah saw. membuka dengan “Alhamdulillahirobbil ‘alamin” atau dengan "bismillaahirrahmaanirrahiim"
Anas menjawab: Engkau bertanya mengenai sesuatu yang aku telah lupa, dan tidak ada yang bertanya mengenai itu selain kamu. Kemudian saya bertanya lagi, “Apakah Rasulullah saw. shalat dengan memakai kedua sandalnya? Anas Menjawab : Ya. (Baehaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 2/382).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَفْتَتِحُ الصَّلاَةَ بِـ {بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}
Dari Ibn Abbas ia berkata : Adalah Rasulullah saw. membuka shalat (membaca Al-Fatihah) dengan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Sunan Ad Daraqutny, 2/69).
عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي الِاثْنَتَيْنِ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
dari Nu'aim Al Mujmir dia berkata; Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah kemudian dia membaca "Bismillaahirrohmaanirrohiim, lalu membaca surat Al Fatihah hingga tatkala telah sampai pada 'Ghairil Maghdlubi 'Alaihim Waladlaallin, (bukan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang tersesat) dia mengucapkan 'Aamiin.' Orang-orangpun lalu mengucapkan Aamiin pula. Abu Hurairah juga mengucapkan 'Allahu Akbar' setiap hendak sujud, dan bangun dari duduk tahiyyat pertama. Setelah selesai salam, dia berkata; Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, Aku adalah orang yang paling menyerupai Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam dalam shalat.(Sunan An Nasai, 2/134; Shahih Ibn Huzaimah, 1: 251; Shahih Ibn Hibban, 5: 104; Sunan Ad Daraqutny, 2: 72).
قَالَ نَافِعٌ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ: " إِنَّهُ كَانَ لَا يَدَعُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ لِأُمِّ الْقُرْآنِ، وَالسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا
Nafi’ mengatakan dari Ibn Umar bahwasanya ia tidak pernah meninggalkan (membaca) "bismillaahirrahmaanirrahiim" untuk ummul Qur’an, dan untuk surat setelahnya. (Al Baghowy dalam Sarhus Sunnah, 3/57).
عَنْ يَزِيدَ الْفَقِيرِ أَنَّهُ: سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ، " قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ، ثُمَّ قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ،
Dari Yazid Al-Faqir sesungguhnya ia mendengar Ibn Umar membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim", kemudian membaca Fatihatul Kitab, kemudian membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim" (untuk surat setelahnya). (Baehaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 2/375).
عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَجَهَرَ بِ ( بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)
Dari Sa’id bin Abdurrahman bin Abza dari bapaknya ia berkata, “Saya shalat di belakang Umar bin Khotob dan ia menjaharkan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Baehaqy dalam As Sunanul Kubro, 2/48 dan Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 1/517).

أَنَّ أَبَا بَكْرِ بْنَ حَفْصِ بْنِ عُمَرَ أَخْبَرَهُ , أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَخْبَرَهُ , قَالَ: صَلَّى مُعَاوِيَةُ بِالْمَدِينَةِ صَلَاةً فَجَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَلَمْ يَقْرَأْ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1] لِأُمِّ الْقُرْآنِ وَلَمْ يَقْرَأْهَا لِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا وَلَمْ يُكَبِّرْ حِينَ يَهْوِي حَتَّى قَضَى تِلْكَ الصَّلَاةَ فَلَمَّا سَلَّمَ نَادَاهُ مَنْ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ: يَا مُعَاوِيَةُ أَسَرَقْتَ الصَّلَاةَ أَمْ نَسِيتَ قَالَ: فَلَمْ يُصَلِّ بَعْدَ ذَلِكَ إِلَّا قَرَأَ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1] لِأُمِّ الْقُرْآنِ وَلِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا وَكَبَّرَ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا ". كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ
…bahwasanya Abu Bakar bin hafs bin Umar telah memberi kabar, bahwasanya Anas bin Malik telah memberi kabar ia berkata, “Muawiyah shalat di Madinah dan menjaharkan bacaannya dan ia tidak membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim" (Al Fatihah ayat 1) untuk ummul qur’an dan tidak membacanya untuk surat setelahnya dan tidak mengucapkan takbir ketika hendak sujud sampai selesai shalat. Setelah mengucapkan salam, mendengar seperti itu para sahabat dari Muhajirin dan Anshor menyerunya dari tempatnya masing-masing, “Hai Muawiyah, Engkau telah mencuri shalat atau lupa? Anas berkata, “maka Muawiyah setelah itu tidak shalat melainkan membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim"(Al Fatihah ayat 1) untuk ummul qur’an dan untuk surat setelahnya dan mengucapkan takbir ketika hendak sujud. (Sunan Ad Daroqutny, 2/83, rawi-rawinya semuanya tsiqot).
عَنِ الْأَزْرَقِ بْنِ قَيْسٍ، أَنَّهُ قَالَ: «صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ الزُّبَيْرِ، فَقَرَأَ فَجَهَرَ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ»
Dari Azraq bin qais bahwanya ia telah berkata, “Saya shalat di belakang Ibn Zubair kemudian ia membaca dan menjaharkan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Sunan Al Baehaqy Al Kubro, 2/49, dan Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 2/376).
وَقَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ: وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، يَفْعَلُهُ، وَكَانَ يُشَبَّهُ فِي حُسْنِ الصَّلَاةِ بِأَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، وَكَانَ عَنْهُ أَخَذَهَا
Dan berkata Syaikh Ahmad : Abdullah bin Zubair melakukannya dan dia dalam bagusnya shalat menyerupai Abu Bakar dan ia mengambil (cara shalat) darinya. (Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 2/376).

عَنْ عَمَّارَةَ : أَنَّ عِكْرِمَةَ كَانَ لَا يُصَلِّي خَلْفَ مَنْ لَا يَجْهَرُ بِ {بسم الله الرحمن الرحيم}.
Dari ‘Amarah, bahwasanya Ikrimah tidak mau shalat di belakang orang yang tidak menjaharkan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 1/522).
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas dan lain-lain keterangan yang tidak disebutkan di sini, kami lebih cenderung memilih yang dijaharkan dengan beberapa alasan sebagai berikut :
1.      Hadits mensirkan dari Anas, telah bertentangan dengan riwayatnya sendiri dan riwayat-riwayat yang lain.
2.      Riwayat dari Anas berbeda-beda, suatu waktu meriwayatkan sir, di waktu yang lain meriwayatkan jahr, dan pada kesempatan yang lain beliau lupa semuanya.
3.      Menjahrkan juga diriwayatkan oleh sahabat yang lain dan mereka tidak saling menyalahi. Di antaranya riwayat Abu Hurairah secara marfu’ dan mauquf. Sedangkan dia orang yang paling hafal dan sahabat Nabi saw. yang datang belakangan. Keterangan lain bersumber dari perbuatan Ibn umar, sedangkan dia dikenal dengan ta’assy-nya dalam mengikuti sunnah. Begitu juga riwayat dari Ibnu Abbas.
4.      Selain para sahabat, menjaharkan juga diamalkan oleh para tabi’in seperti Ikrimah dan Ibn Zubair.
5.      Bahwasanya basmalah merupakan ayat pertama dari Al-Fatihah. Kalau terus menerus mensirkan, akan mengakibatkan masyarakat awam akan meninggalkan basmalah. Maka barangsiapa yang meninggalkan basmalah, ia telah meninggalkan satu ayat dari Al-Fatihah. Barangsiapa yang meninggalkan satu ayat dari Al-Fatihah maka shalatnya batal, berdasarkan sabda Rasulullah saw. “Tidak sah shalat, bagi yang tidak membaca Al-Fatihah”.
Selain keterangan di atas, terdapat keterangan yang menyatakan bahwa mengapa Rasulullah saw. mensirkan bacaan basmalah, sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ:كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، هَزِئَ مِنْهُ الْمُشْرِكُونَ، وَقَالُوا: مُحَمَّدٌ يَذْكُرُ إِلَهَ الْيَمَامَةِ، وَكَانَ مُسَيْلِمَةُ يَتَسَمَّى الرَّحْمَنَ فَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ أُمِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لا يَجْهَرَ بِهَا.
Dari Ibn Abbas ia berkata : Adalah Rasulullah saw. ketika membaca “BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM”, orang-orang musyrik memperolok-oloknya. Mereka mengatakan, “Muhammad menyebut-nyebut tuhan Yamamah”, dan dia adalah Musailamah menamai dirinya ar rahman. Ketika turun ayat {وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا}., Rasulullah saw. diperintahkan untuk tidak menjahrkannya. (HR. Thobrani dalam Al Mu’jamul Kabir, 10/132; Mushonnaf Ibn Abi Syaibah, 2/441).
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, terdapat illat mengapa basmalah tidak dijaharkan. Oleh karena illatnya sudah tidak ada, maka mengapa kita mesti mensirkan bacaan basmalah, apalagi di depan makmum yang lebih suka menjaharkan bacaan basmalah. Demikian Wallahu A’lam bis showab.

KAIFIYAT SHALAT JENAZAH



KAIFIYAT SHALAT JENAZAH
Oleh : Deni Solehudin

A.      Shalat Jenazah Dengan Empat Kali Takbir
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا
Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari kematiannya kemudian Beliau keluar menuju tempat shalat lalu Beliau membariskan shaf kemudian takbir empat kali. (BUKHARI - 1168).
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ وَخَرَجَ بِهِمْ إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mengumumkan kematian An-Najasyi, pada hari kematiannya lalu Beliau keluar bersama mereka menuju tanah lapang kemudian Beliau membariskan mereka dalam shaf lalu Beliau bertakbir empat kali". (BUKHARI - 1247).
B.      Bacaan-Bacaan Shalat Jenazah.

1.      Takbir Pertama
Setelah Takbir pertama bacaan shalat jenazah adalah ta’awudz, al-fatihah, surat, dan shalawat.
Keterangan :
a.      Dalil membaca ta’awudz adalah keumuman ayat Al-Qur’an sebagai berikut :
"apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (16:98)  

b.      Dalil Membaca al-fatihah dan surat
عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ : صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَجَهَرَ حَتَّى أَسْمَعَنَا فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْتُ بِيَدِهِ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ : سُنَّةٌ وَحَقٌّ.
Dari Thalhah bin Abdullah bin Auf ia berkata, Saya shalat jenazah di belakang Ibn Abbas, maka beliau membaca Al Fatihah dan surat dan menjaharkannya sehingga terdengar oleh kami. Ketika selesai, saya memegang tangan beliau dan bertanya kepadanya mengenai hal itu. Beliau menjawab, itu adalah sunnah dan benar. (HR. An Nasai dalam As-Sunanul Kubro, 2:448).
وَلِلْحَاكِمِ مِنْ طَرِيقِ اِبْنِ عَجْلَانَ أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ سَعِيدٍ يَقُول : صَلَّى اِبْنُ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَجَهَرَ بِالْحَمْدِ ثُمَّ قَالَ : إِنَّمَا جَهَرْت لِتَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ .
Berdasarkan riwayat Al-Hakim melalui jalan Ibn Ajlan sesungguhnya Said bin Said berkata : Ibnu Abbas shalat jenazah dengan menjaharkan Al-fatihah, kemudian berkata, Aku menjaharkan hanyalah supaya kamu mengetahui bahwa pekerjaan itu adalah sunnah Nabi saw. (Tuhfatul Ahwadzy, 3:84).

c.       Dalil membaca shalawat
عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ : أَنَّهُ أَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- : أَنَّ السُّنَّةَ فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ.
Dari Imam Az Zuhry ia berkata, Abu Umamah bin Sahl telah memberitahukan bahwasanya seseorang dari sahabat Nabi saw. telah memberitahukannya, Sesungguhnya sunnah di dalam shalat jenazah itu hendaklah imam bertakbir kemudian membaca Al-fatihah dengan sir setelah takbir pertama, lalu membaca shalawat atas Nabi saw. Dan mengikhlaskan doa untuk jenazah pada takbir-takbir (yang tiga) dan tidak membaca surat apa pun pada ketiga takbir itu, kemudian mengucapkan salam secara sir. (H.R. Baehaqie dalam As Sunanul Kubro, 4: 38; Musnad As Syafii: 620).

2.      Takbir Kedua
Membaca doa
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
"ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA 'AAFIHI WA'FU 'ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI' MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A'IDZHU MIN 'ADZAABIL QABRI AU MIN 'ADZAABIN NAAR (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnyak, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka)." (MUSLIM - 1600) 

3.      Takbir Ketiga
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا
اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ
ALLAHUMMAGHFIRLI LIHAYYINA WA MAYYITINA WA SYAHIDINA WA GHAIBINA WA SHAGHIRINA WA KABIRINA WA DZAKARINA WA UNTSANA (Ya Allah, ampunilah orang yang masih hidup di antara kami dan orang yang sudah meninggal, orang yang hadir di antara kami dan orang yang tidak hadir, orang yang masih kecil di antara kami dan orang yang sudah tua, yang laki-laki dan yang perempuan kami)
"ALLAHUMMA MAN AHYAITAHU MINNA FA AHYIHI 'ALAL ISLAM WAMAN TAWAFFAITAHU MINNA FA TAWAFFAHU 'LALA IMAN (Ya Allah, orang yang Engkau hidupkan di antara kami maka hidupkanlah dia dalam (keadaan) Islam, orang yang Engkau wafatkan dari kami, maka wafatkanlah mereka dalam keadaan iman) . (TIRMIDZI - 945)

4.      Takbir Keempat
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا جِئْنَاكَ شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهُ
Ya Allah, engkau adalah Tuhan jenazah tersebut, Engkau telah menciptakannya, dan Engkau telah memberinya petunjuk untuk memeluk agama Islam, dan Engkau telah mencabut nyawanya, Engkau lebih mengetahui terhadap rahasianya dan perkaranya yang nampak. (ABUDAUD - 2785)

5.      Salam
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ ابْنِ عَقِيلٍ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Ibnu 'Aqil dari Muhammad bin Al Hanafiyyah dari Ali radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kunci shalat adalah bersuci, yang mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir, dan yang menghalalkannya kembali adalah salam." (Abu Dawud: 56; Baehaqie, As Sunanul Kubro: 2: 15
عَنْ عَلْقَمَةَ وَالأَسْوَدِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ : ثَلاَثُ خِلاَلٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُنَّ تَرَكَهُنَّ النَّاسُ إِحْدَاهُنَّ التَّسْلِيمُ عَلَى الْجَنَازَةِ مِثْلَ التَّسْلِيمِ فِى الصَّلاَةِ.
Dari Alqomah dan Al Aswad dari Abdullah (Ibn Masud) berkata, Tiga perkara yang dikerjakan oleh Rasulullah saw, tetapi ditinggalkan oleh manusia; di antaranya salam pada shalat jenazah sebagaimana salam pada shalat-shalat lainnya. (HR. Baehaqie dalam As Sunanul Kubro, 4:43 dan dalam Marifah As Sunan wal Atsar, 5: 305).