Penegak Kebenaran

Melatih diri untuk terus menuntut ilmu dan memberikan informasi yang sesuai dengan ajaran Islam berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi. Berusaha sekuat tenaga untuk mengamalkan dengan harapan akan menjadi Penegak Kebenaran yang diridloi Allah SWT.

Pengusung Peradaban

Menjadikan madrasah, pesantren, dan tempat pendidikan lainnya sebagai tempat thalabul ilmi agar terbentuk generasi muda yang kuat, cerdas, dan taqkwa sehingga suatu saat dapat menjadi mujahid masa depan dan menjadi Pengusung Peradaban yang bermoral dan berakhlaq Islami.

Penerang Kegelapan

Bekerja keras untuk selalu mengamalkan dan mengimplementasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan lain sebagai salah satu kewajiban muslim dengan harapan dapat menjadi Penerang Kegelapan. Berbagi informasi dalam kebaikan dan takwa serta saling menasihati dalam kebenaran

Memperkuat Aqidah

Melatih generasi muda sedini mungkin melalui berbagai media pendidikan exact dan non-exact sebagai bekal hidup di masa depan untuk mewujudkan penjuang masa depan yang mandiri, kuat, disiplin, dan amanah.

Disiplin

Menyalurkan bakat dan mengembkangkan kemampuan generasi muda melalui berbagai kegiatan positif dengan harapan dapat tertanam sikap persaudaraan, persahabatan, dan disiplin.

Search

Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Filsafat

Oleh : Zenal Ar.

A. Pengertian Filsafat.
Secara etimologis kata filsafat dari kata Yunani filosofia, yg berasal dari kata kerja filosofein yg berarti mencintai kebijaksanaan. Kata filsafat juga berasal dari kata Yunani philosophis yg berasal dari kata kerja philein yg berarti mencintai / philia yg berarti cinta, dan sophia yangg berarti kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata Inggris philosophy yg bias diterjemahkan “cinta kearifan”.

Konsep Plato : Istilah dialektika yaitu seni berdiskusi. Dikatakan demikian karena filsafat harus berlangsung sebagai upaya memberikan kritik terhadap berbagai pendapat yg berlaku.

Konsep Cicero : Filsafat sebagai ibu dari semua seni (the mother of all the art). Dan juga sebagai arts vital yg mana filsafat sebagai seni kehidupan.

Konsep Al-Farabi : Filsafat sebagai ilmu yg menyelidiki hakikat yg sebenarnya dari segala yg ada.

Konsep Rene Descartes : Filsafat sebagai kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam, dan manusia jadi pokok penyelidikannya.

Konsep Francis Bacon : Filsafat sebagai induk agung dari ilmu-ilmu. Filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.

Filsafat sebagai ilmu mengandung 4 unsur pertanyaan ilmu, yaitu bagaimanakah, mengapa, kemanakah dan apakah.

Filsafat sebagai cara berpikir
Berpikir yang sangat mendalam sampai hakikat / berpikir secara global/ menyeluruh/ berpikir yang dilihat dari berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan.

Harus memenuhi persyaratan :
  1. Harus sistematis
  2. Harus konsepsional
  3. Harus koheren
  4. Harus rasional
  5. Harus sinoptik
  6. Harus mengarah kepada pandangan dunia

Filsafat sebagai pandangan hidup
Hakikatnya bersumber pada hakikat kodrat pribadi manusia ( sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan)

B. Objek Materi & Objek Forma Filsafat
Objek materi filsafat adalah segala sesuatu yang ada. “ada” disini mempunyai 3 pengertian, yaitu ada dalam kenyataan, pikiran, dan kemungkinan.

Objek forma filsafat adalah menyeluruh secara umum. “Menyeluruh” disini berarti bahwa filsafat dalam memandangnya dapat mencapai hakikat (mendalam) / tidak ada satu pun yang berada di luar jangkauan pembahasan filsafat. Umum disini dalam hal tertentu, hal tersebut dianggap benar selama tidak merugikan kedudukan filsafat sebagai ilmu.

Ir. Poedjawijatna : Objek materi filsafat, ada dan yang mungkin ada. Objek materi filsafat tersebut sama dengan objek materi dari ilmu seluruhnya.

C. Ciri-ciri pemikiran Filsafat
Clarence I Lewis (ahli logika) : Filsafat itu sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal.
Ciri-ciri pemikiran filsafat :
  1. Sangat umum / universal
  2. Tidak faktual
  3. Bersangkutan dengan nilai
  4. Berkaitan denga arti
  5. Implikatif
D. Cabang-cabang Filsafat
Filsafat dikelompokkan menjadi 4 bidang induk sebagai berikut :
  1. Filsafat tentang pengetahuan : epistemologi, Logika, Kritik ilmu-ilmu
  2. Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, yang terdiri dari : metafisika umum dan khusus.
  3. Filsafat tentang tindakan, etika, dan estetika.
  4. Sejarah filsafat.

Pembagian filsafat secara sistematis yangg terdiri dari :
  1. Metafisika ( filsafat tentang hal yang ada ).
  2. Epistemologi ( teori tentang pengetahuan ).
  3. Metodologi ( teori tentang metode ).
  4. Logika ( teori tentang penyimpulan ).
  5. Etika ( Filsafat tentang pertimbangan moral ).
  6. Estetika ( Filsafat tentang keindahan ).
  7. Sejarah filsafat.
Filsafat berdasarkan struktur pengetahuan filsafat yg berkembang sekarang :
  1. Filsafat sistematis : Metafisika, Epistemologi, Metodologi, Logika, Etika, Estetika.
  2. Filsafat Khusus : Filsafat seni, kebudayaan, pendidikan, sejarah, bahasa, hukum, budi, politik, agama, kehidupan sosial, nilai.
  3. Filsafat keilmuan : Filsafat matematika, ilmu-ilmu fisik, biologi, linguistik, psikologi, ilmu-ilmu sosial.
Cabang-cabang Filsafat meliputi :
  1. Metafisika.
  2. Epistemologi.
  3. Logika.
  4. Etika.
  5. Sejarah Filsafat.
E. Kegunaan Mempelajari filsafat :
  1. Menambah ilmu pengetahuan.
  2. Dasar sebuah tindakan adalah ide.
  3. Dengan bertambah & berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekhnologi kita ditantang untuk memberikan alternatifnya.
F. Metode-metode Filsafat.
  1. Metode Kritis.
  2. Metode Intuitif.
  3. Metode Analisis/Abstraksi.
G. Sejarah Kelahiran Filsafat.

1. Masa Yunani.
Yunani terletak di Asia kecil, penduduknya sebgai nelayan & pedagang, dan mereka menguasai jalur perdagangan.

Menganut kepercayaan yg bersifat formalitas yakni tidak memberi kebebasan pada manusia, sehingga memunculkan pertentangan. Salah satunya adalah Homerus. Sehingga memunculkan aliran – aliran pemikiran yg bermacam-macam.

Ahli pikir yg pertama muncul adalah Thales (625-545 SM) ia mengembangkan geometri, matematika. Lalu muncul pula yg bernama Democritos yg mengembangkan teori materi. Lalu Hipocrates ia mengembangkan ilmu kedokteran. Lalu Euclid yg mana ia mengembangkan geometri deduktif. Lalu Socrates, Plato, dan Aristoteles.

2. Masa abad Pertengahan.
Diawali dengan lahirnya filsafat eropa, yg sangat dipengaruhi oleh kepercayaan Kristen. Yang ditandai dengan berdirinya sekolah-sekolah dan universitas-universitas dalam bidang geometri, gramatika, dialektika, astronomi, dll.

Dimasa Skolastik islam muncullah ahli-ahli piker islam. Seperti al-Ghazali, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Thufail, dll. Pada masa jayanya ilmu-ilmu pengetahuan berkembang dengan sangat pesat.

Pada masa peralihan dari abad pertengahan ke masa modern muncul Renaisance dan Humanisme yg menandai masa abad modern.

3. Masa abad Modern.
Masa ini filsafat berhasil menempatkan manusia pada posisi yg sentral. Dikarenakan berdasarkan akal dan pengalaman. Masa ini filsafat berusaha diletakan secara sistematis dan praktis.

Tokoh-tokohnya adalah Rene Descartes, George Barkeley, David Hume, Immanuel Kant ( Jerman ), Christian Wolf (1685-1753). Lalu dilanjutkan dengan masa perpecahan diantaranya terbagi pada Filsafat Amerika, Perancis, Inggris, dan filsafat Jerman.

4. Masa Abad dewasa ini ( Filsafat abad ke-20 ).
Disebut juga masa filsafat kontemporer, yg jadi cirinya desentralisasi manusia, memberikan khusus pada bidang bahasa dan etika sosial.

Pokok masalah dalam filsafat bahasa diantaranya mempertanyakan arti kata dan arti dari pernyatan-pernyatan. Masa ini timbul filsafat analitik yg mana membahas tentang cara berpikir.

Masa ini muncul aliran-aliran seperti neo-thomisme,neo-vitalisme,historisme, irasionalisme, sll.

Bab. II. Filsafat Yunani.
3 faktor yg mentebabkan filsafat Yunani tumbuh, yaitu : Bangsa Yunani kaya akan dongeng, banyaknya karya sastra, dan pengaruh budaya babylonia.

Zaman Yunani terbagi jadi 2 periode yaitu : Yunani kuno ( Thales, Anaximandros, Pythagoras, Xenopanes, dll ) dan masa Yunani klasik ( Socrates, Plato, Aristoteles).

a. Yunani kuno.
Masa ini lazim disebut dengan periode filsafat alam, karena para ahli pikir masa ini cenderung untuk melihat pada alam ygada disekitarnya. Dan tidak berdasarkan mitos. Mereka mencari azas-azas yg pertama dari alam yg bersifat mutlak. Para pemikir yg pertama berasal dari miletos tepatnya Asia kecil.

b. Yunani klasik.
Masa ini ditandai dgn besarnya minat pada filsafat, aliran yg mengawalinya adalah sofisme. Antara sofis dan Socrates mempunyai hubungan yg erat yg mana pembahasannya mengenai manusia. Perbedaan mereka terletak pada bahwa pemikiran Socrates ada sebagai reaksi atas pemikiran kaum sofis.

Kaum sofis
Bukan suatu aliran / ajaran, merupakan suatu gerakan dalam bidang intelektual sebagai reaksi atas minat orang pada filsafat. Istilah sofis berasal dari kata sofihistis yaitu seorang sarjana / cendekiawan. Faktor pendorong timbulnya sofis adalah : perkembangan pesat kota Athena, desakan kebutuhan akan bidang pendidikan, dll.

Bab. III. Filsafat Barat Abad Pertengahan.
Ciri pemikiran abad pertengahan adalah :
  1. Cara berfilsafatnya dipimpin oleh gereja.
  2. Berfilsafatnya didalam lingkungan Aristoteles.
  3. Berfilsafat dgn pertolongan Augustinus.
Masa Abad pertengahan terbagi 2, yaitu :
  1. Masa Patristik.
  2. Masa Skolastik.
1. Masa Patristik.
Istilah Patristik berasal dari kata latin yaitu pater/ bapak ialah pemimpin gereja yg dipilh dari golongan atas/ ahli pikir. Golongan ini terbagi 2 antara yg menerima dan yg menolak filsafat Yunani.

Golongan yg menolak beranggapan bahwa sudah punya sumber kebenaran, yakni firman Tuhan dan tidak dibenarkan mencari kebenaran yg lain dari filsafat Yunani. Sedang yg menerima filsafat Yunani beranggapan walau telah ada sumber kebenaran tidak ada jeleknya menggunakan Filsafat Yunani sebagai metode berpikir, tokohnya antara lain : Justinus Martir, Gregorius,Tertullianus, dll.

2. Masa Skolastik.
Istilah Skolastik berasal darikata school yg erarti sekolah, yg berarti aliran yg berkaitan dgn sekolah. Adapun cirinya adalah Mempunyai corak keagamaan, mengabdi pada teologi, filsafat Yunani yg terpengaruh ajaran gereja.
  1. Skolastik bisa tumbuh karena faktor agama dan ilmu pengetahuan. Masa skolastik terbagi jadi 3 periode: Skolastik awal (800-1200) : Aquinas, Peter Lumbard, John Salisbary,dll.
  2. Skolastik puncak (1200-1300) : Albertus de Grote, William Ocham,dll
  3. Skolastik akhir (1300-1450) : Nicolas Cusasus,dll.
Skolastik Arab terbagi 2. yaitu : Periode Mutakallimin dan periode filsafat Islam.

Bab. IV. Pemikiran Filsafat di Timur.
a. Filsafat India.
Terbagi dlm 5 zaman, yaitu : Zaman Wedha, Wiracarita, Sastra sutra, kemunduran, dan zaman pembaharuan.

b. Filsafat Tiongkok.
Aspek yg melatar belakangi lahirnya filsafat tiongkok adalah aspek geografis, ekonomi,system kekerabatan, sikap pd alam, dll. Aliran-aliran pemikiran filsafatnya, yaitu : Confusiasme dan Taoisme.

c. Filsafat Islam.
Pembagian aliran pemikiran filsafat Islam adalah, sbb :
Periode Mu’tazilah (Abad ke 8-12)-Periode filsafat pertama (Abad 8-11)-Periode kalam asy’ari (Abad 9-11)-Periode filsafat kedua (Abad 11-12)- Periode Mutakallimin (700-900).

d. Filsafat di Indonesia.
Maksud pemikiran filsafat di Indonesia adalah suatu pemikiran yg diperuntukan sebagai landasan kehidupan berbangsa diIndonesia.Adapun tujuannnya adalah bertujuan dan punya corak : selaras dengan dirinya sendiri, harmonis terhadap lingkungan serta harmonis dengan Tuhan yang Maha Esa. Dan ini termaktub dalam dasar Negara yaitu Pancasila.

Bab. V. Filsafat Modern.
Zaman modern ditandai dengan gerakan Renaisance (abad 14) yg mempunyai corak keagamaan dan kemasyarakatan. Tujuan utamanya adalah mengaitkan dan merealisasikan ajaran kristiani dan filsafat Yunani, serta mempersatukan gereja.

Masa abad 20 muncullah berbagai aliran pemikiran diantaranya :
  1. Rasionalisme, dipelopori oleh Rene Descartes. Ia mengatakan bahwa pengetahuan harus satu. Dan harus berdiri sendiri, dan sumber yg dapat dipercaya adalah akal.
  2. Empirisme, diantara tokohnya adalah Thomas Hobbes, John Locke, dan David Hume. Mereka berpandangan ilmu pengetahuan yg benar dan bermanfaat dpt diperoleh indera (empiri).
  3. Kritisisme, adalah aliran yg mengakui peranan akal dan keharusan empiri dan melalui jalan sintesis. Metode berpikirnya disebut metode kritis, pelopornya adalah Immanuel Kant.
  4. Idealisme, merupakan penerus Kant yg tidak puas pada batas kemampuan akal. Alasannya adalah karena akal murni tidak akan dapat mengenal hal yg berada diluar pengalaman, untuk itu dicari suatu dasar yaitu system metafisika.
  5. Positivisme, Pemikirannya adalah factual dan positif. Maksudnya segala gejala dan segala nampak seperti apa adanya dan sebatas pengalaman yg objektif.
  6. Evolusionisme, corak pemikirannya bahwa segala sesuatu termasuk manusia diatur oleh hokum mekanik.
  7. Materialisme, aliran ini berpandangan kerohanian dan berpendapat bahwa pengetahuan dan tindakan berlaku adagium artinya terimalah dunia yg ada. Untuk mendapat kebahagiaan harus ingat pd sesamanya.

Bab. VI. Filsafat dewasa ini.
  1. Filsafat Analitis, Pelopornya adalah Ludwig Josef johan Wittgenstein (1889-1951), pemikirannya adalah tentang bahasa, ia mencita-citakan suatu bahasa yg ideal, lengkap, formal dan dapat memberikan kemungkinan bagi masalah-masalah kefilsafatan.
  2. Filsafat Strukturalisme, pelopornya adalah J. Lacan (1901), pemikirannya adalah bahwa bahasa terdiri dari sejumlah termin yg ditentukan oleh posisi-posisinya satu terhadap yg lain. Dan termin itu digabungkan oleh aturan gramatika & sintaksis. Kita dikatakan jadi pribadi jika mengabdikan diri pada bahasa. 

Sarana Berpikir Ilmiah

A. Pendahuluan
Berpikir merupakan ciri utama manusia. Dr. Mr. D.C. Mulder, mengatakan, "manusia ialah makhluk yang berakal; akallah yang merupakan perbedaan pokok di antara manusia dan binatang; akallah yang menjadi dasar dari segala kebudayaan".

Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Dengan berpikir manusia dapat memenuhi kehidupannya dengan mudah. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir.

Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat-laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Padahal, Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk sebuah tujuan sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya."

Banyak yang beranggapan bahwa untuk "berpikir secara mendalam", seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap "berpikir secara mendalam" sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan "filosof".

Padahal, sebagaimana telah disebutkan di atas, Allah mewajibkan manusia untuk berpikir secara mendalam atau merenung. Allah berfirman bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada manusia untuk dipikirkan atau direnungkan: Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan (merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" Yang ditekankan di sini adalah bahwa setiap orang hendaknya berusaha secara ikhlas sekuat tenaga dalam meningkatkan kemampuan dan kedalaman berpikir.

Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."

Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.

B. Pembagian Berpikir
Berpikir Merupakan Proses Bekerjanya Akal Imam Al Ghazali menempatkan akal pada posisi yang mulia. Dalam kitabnya Ihya Ulumuddin beliau membuat suatu sub judul : Fi Al Aqli wa Syarafihi dan mengutip sebuah hadis yang artinya sebagai berikut : "Pertama kali yang diciptakan oleh Allah SWT. Adalah akal. Allah berkata kepadanya : Menghadaplah engkau, maka menghadaplah ia. Kemudian Allah berkata : Membelakangilah, maka ia pun membelakang. Selanjutnya Allah mengatakan, "Demi kegagahan dan kemulian-Ku, "Aku tidak mnenciptakan makhluak yang lebih mulia selain darimu. Denganmu aku mengambil dan denganmu aku memberi. Denganmu aku memberikan pahala dan denganmu aku menyiksa.

Akal Merupakan Salah Satu Unsur Kejiwaan Di Samping Rasa. Berpikir Dapat Dilihat Secara Alamiah Dan Ilmiah.

1. Berpikir Alamiah :
Pola Penalaran Berdasarkan Kebiasaan Sehari-Hari Dari Pengaruh Alam Sekelilingnya. Misalnya penalaran tentang panasnya api yang dapat membakar.

2. Berpikir Ilmiah :
Pola Penalaran Berdasarkan Sarana Tertentu Secara Teratur Dan Cermat.
Berpikir ilmiah adalah landasan atau kerangka berpikir penelitian ilmiah.

Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.

C. Sarana Berpikir Ilmiah

1. Hakikat Sarana Berpikir Ilmiah
Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan langkah tersebut.

Dengan jalan ini maka kita akan sampai pada hakekat sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara menyeluruh.

Dalam proses pendidikan, sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :

a. Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri ilmu umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam mendapatkan pengetahuannya.

Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuaannya yang berbeda dengan sarana berpikir ilmiah.

b. Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.[12]

Jelaslah bahwa mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuaannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.

Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain.

Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyandarkan diri pada proses logika deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif ini sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.

Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula.

Salah satu langkah ke arah penguasaan itu adalah mengetahui dengan benar peranan masing-masing sarana berpikir tersebut dalam keseluruhan proses berpikir ilmiah.

2. Fungsi Sarana Berpikir Ilmiah
Sarana Ilmiah Mempunyai Fungsi Yang Khas, Sebagai Alat Bantu Untuk Mencapai Tujuan Dalam Kaitan Kegiatan Ilmiah Secara Keseluruhan.

Sarana Berpikir Ilmiah Merupakan Alat Bagi Cabang-Cabang Pengetahuan Untuk Mengembangkan Materi Pengetahuannya Pada Dasarnya Ada Tiga :

a. Bahasa Ilmiah : Berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran seluruh proses berpikir ilmiah

Yang dimaksud bahasa disini ialah bahasa ilmiah yang merupakan sarana komunikasi ilmiah yang ditujukan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan, syarat-syarat :
  1. Bebas dari unsur emotif
  2. Reproduktif
  3. Obyektif
  4. Eksplisit
Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yakni, pertama, sebagai sarana komunikasi antar manusia, dan kedua, sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut.

Bahasa adalah unsur yang berpadu dengan unsur-unsur lain di dalam jaringan kebudayaan. Pada waktu yang sama bahasa merupakan sarana pengungkapan nilai-nilai budaya, pikiran, dan nilai-nilai kehidupan kemasyarakatan. Oleh karena itu, kebijaksanaan nasional yang tegas di dalam bidang kebahasaan harus merupakan bagian yang integral dari kebijaksanaan nasional yang tegas di dalam bidang kebudayaan.

Perkembangan kebudayaan Indonesia ke arah peradaban modern sejalan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut adanya perkembangan cara berpikir yang ditandai oleh kecermatan, ketepatan, dan kesanggupan menyatakan isi pikiran secara eksplisit. Ciri-ciri cara berpikir dan mengungkapkan isi pikiran ini harus dipenuhi oleh bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi dan sebagai sarana berpikir ilmiah dalam hubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta modernisasi masyarakat Indonesia. Selain itu, mutu dan kemampuan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi keagamaan perlu pula ditingkatkan. Bahasa Indonesia harus dibina dan dikembangkan sedemikian' rupa sehingga ia memiliki kesanggupan menyatakan dengan tegas, jelas, dan eksplisit konsep-konsep yang rumit dan abstrak serta hubungan antara konsep-konsep itu satu sama lain. Untuk mencapai tujuan ini harus dijaga agar senantiasa terdapat keseimbangan antara kesanggupan bahasa Indonesia berfungsi sebagai sarana komunikasi ilmiah dan identitasnya sebagai bahasa nasional Indonesia.

b. Matematika dan Logika : Mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif sehingga mudah diikuti dan dilacak kembali keberadaannya

Matematika adalah pengetahuan sebagai sarana berpikir deduktif sifat :
  1. Jelas, spesifik, dan informatif
  2. Tidak menimbulkan konotasi emosional
  3. Kuantitatif
Menurut Jujun, matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat ”artifisial" yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya.

Kata Kant, pengetahuan yang sudah jelas ialah pengetahuan matematika. Pengetahuan ini dapat diperoleh tidak melalui pengalaman, bebas dari pengalaman. Pengetahuan matematika itu niscaya dan pasti. ... Kebenaran matematika itu bersifat absolut dan niscaya, tidak dapat dibayangkan suatu ketika tidak benar.

Matematika merupakan alat yang memungkinkan ditemukannya serta dikomunikasikannya kebenaran ilmiah lewat berbagai disiplin keilmuan. Matematika dan logika sebagai sarana berpikir deduktif mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Logika lebih sederhana penalarannya, sedang matematika sudah jauh lebih terperinci.

c. Statistika : Mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif untuk mencari konsep-konsep yang berlaku umum

Statistika ialah pengetahuan sebagai sarana berpikir induktif sifat :
  1. Dapat digunakan untuk menguji tingkat ketelitian
  2. Untuk menentukan hubungan kausalitas antar factor terkait
Statistika merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara mendapatkan data, menganalisis dan menyajikan data serta mendapatkan suatu kesimpulan yang sah secara ilmiah. Sedangkan Sumantri berpendapat bahwa statistika digolongkan di luar ilmu tetapi merupakan salah satu unsur dari empat sarana pengembangan ilmu, yaitu bahasa, logika, matematika, serta statistika sendiri. Statistika merupakan sarana berpikir yang didasari oleh logika berpikir induktif. Dalam perkembangannya, statistika mulai berkembang pesat sejak tahun 1900-an ditandai dengan ditemukannya dasar teori statistika secara matematis oleh R.A. Fisher.

Statistika sangat berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam penelitian. Dari penelitianlah ditemukan teori-teori baru. Prof. A. A. Mattjik (2000) menegaskan bahwa sasaran utama dari mempelajari statistika adalah menggugah untuk memikirkan secara jelas prosedur pengumpulan data dan membuat interpretasi dari data tersebut menggunakan teknik statistika yang banyak digunakan dalam penelitian.

Sejalan dengan pentingnya statistika dalam penelitian, kedepan, persaingan dunia modern ditentukan oleh Hak Patent dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Tak luput dalam persaingan itu, Universitas Jember pun mempersiapkan diri menuju/menjadi Research University. Riset telah menjadi (satu-satunya), kekuatan utama sebuah perguruan tinggi. Ketajaman riset harus didukung oleh cara berpikir ilmiah metodologis, data yang berkualitas dan ketajaman analisis kuantitatif-kualitatif, serta penarikan kesimpulan yang sah (inferensia) yang hampir seluruhnya terangkum dalam statistika.

Peranan Statistik
Presiden SBY tak mau senyum pada Gubernur Bengkulu (PR, 18/9/2007), gara-gara lemahnya data statistik korban gempa. Memang, data statistik pegang peranan penting dalam pembangunan. Katakanlah data warga miskin (Gakin) sangat menentukan bagi suksesnya program pengentasan kemiskinan.

Bicara statistik dan pembangunan sangat relevan. Melalui angka statistik kita bisa lihat keberhasilan pembangunan. Oleh karena itu, sangatlah pantas bila kita mau menghargai kinerja para statistikawan. Para Mantri statistik di pedesaan tiada terik dan tiada hujan terus bekerja mengumpulkan data guna dipersembahkan pada para pengguna.

Di bidang pembangunan ekonomi dan kemasyarakatan angka statistik punya andil dalam menciptakan keberhasilan berbagai program pembangunan, seperti halnya dalam program pengentasan kemiskinan dan program peningkatan kesempatan kerja. Sebagaimana diketahui data statistik yang akurat akan menghasilkan perencanaan pembangunan ekonomi dan kemasyarakatan yang kuat.

Di bidang pembangunan politik seperti dalam pilpres, pilgub, dan pilkada; data penduduk yang reliable dan valid turut menentukan kehormatan dan keberhasilan perhelatan tersebut. Betapa tidak terhormatnya, masa iya orang yang sudah meninggal dunia masih terdata sebagai pemilih.

Di bidang pembangunan ilmu, kedudukan statistik sangat jelas sebagai salah satu komponen dari sarana berpikir ilmiah di samping logika, bahasa, dan matematika. Bila matematika selalu menuntun kita dalam proses berpikir deduktif, maka statistika senantiasa membimbing kita dalam proses induktif. Statistika harus mendapat tempat yang sejajar dengan matematika agar keseimbangan berpikir deduktif dan induktif yang merupakan ciri dari berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan baik.

Sebagaimana diketahui peranan statistik sangat banyak dalam penelitian, mulai dari tahap pengambilan sampel sampai dengan tahapan pengujian hipotesis. Dengan demikian dapat dikatakan statistik merupakan pengetahuan untuk melakukan penarikan kesimpulan induktif secara lebih seksama.
  • [1] Endang Saefuddin Anshari, Ilmu, filsafat dan Agama, Bina Ilmu, 1991, hal. 8
  • [2] (QS. Ad-Dukhaan, 44: 38-39)
  • [3] (QS. Ar-Ruum, 30: 8)
  • [4] (QS. Shaad, 38: 29).
  • [5] (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).
  • [6] Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu, Liberty Yogyakarta, 2007, hal. 87
  • [7] Al Ghazali, hal 28.
  • [8] Tim Dosen, Ibid.
  • [9] Ibid.
  • [10] Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Sinar Baru, Bandung, 1991, hal. 11.
  • [11] Jujun, Filsafat Ilmu, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993, hal. 165
  • [12] Burhanuddin Salam, Logika Material : Filsafat Ilmu Pengetahuan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 134
  • [13] Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cet. ke-2, Januari. Jakarta : Rineka Cipta. 2002.
  • [14] I GUSTI BAGUS RAI UTAMA, SE., MMA, KUMPULAN BAHAN KULIAH Metodologi Penelitian (Modul Pengantar).
  • [15] Salam, ibid, hal 136.
  • [16] Sumantri, J.S., dalam http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16
  • [17] Berpikir deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan. Dalam logika deduktif, menarik suatu kesimpulan dimulai dari pernyataan umum menuju pernyataan khusus dengan menggunakan penalaran atau rasio. (lihat Nana Sudjana, hal 6).
  • [18] I GUSTI BAGUS RAI UTAMA, SE., MMA, ibid
  • [19] Jujun, ibid, hal. 190
  • [20] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1992, hal. 155
  • [21] Tim Dosen, ibid, hal. 108.
  • [22] Menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual.
  • [23] I GUSTI BAGUS RAI UTAMA, SE., MMA, ibid
  • [24] Jujun, ibid, hal. 167.
  • [25] Dr. Ir. DEDI SUFYADI, M.S. dalam http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16