Bagaimana terkait dengan hukum gambar/lukisan dan patung dalam Islam ?
Ditulis oleh Taraweh - Tuesday, June 13, 2017. Gambar,Hukum Gambar Dalam Islam,Hukum Lukisan,Hukum Lukisan Dalam Islam,Lukisan,Patung - No comments
Bagaimana
terkait dengan hukum gambar/lukisan dan patung dalam Islam ?
Jawab :
Hadis-hadis
tentang larangan gambar memang banyak, sebagai mana kasus memahami hadis-hadis
isbal, perlu penelitian yang mendalam. Tahapan metodologinya
1. Menghimpun
semua hadis tentang gambar dan patung
2. Meneliti mana
hadis-hadis yang mutlaq dan muqoyyad
3. Memasukan
yang mutlaq pada yang muqoyyad.
Misal hadis
mutlaq
عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ قَالَ
كُنْتُ عِنْدَ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ
فَقَالَ يَا أَبَا عَبَّاسٍ إِنِّي إِنْسَانٌ إِنَّمَا مَعِيشَتِي مِنْ صَنْعَةِ
يَدِي وَإِنِّي أَصْنَعُ هَذِهِ التَّصَاوِيرَ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَا
أُحَدِّثُكَ إِلَّا مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فَإِنَّ اللَّهَ
مُعَذِّبُهُ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا أَبَدًا
فَرَبَا الرَّجُلُ رَبْوَةً شَدِيدَةً وَاصْفَرَّ وَجْهُهُ فَقَالَ وَيْحَكَ إِنْ
أَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تَصْنَعَ فَعَلَيْكَ بِهَذَا الشَّجَرِ كُلِّ شَيْءٍ لَيْسَ
فِيهِ رُوحٌ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ سَمِعَ سَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ مِنْ
النَّضْرِ بْنِ أَنَسٍ هَذَا الْوَاحِدَ
Dari Sa'id bin
Abi Al Hasan berkata; Aku pernah bersama Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhu ketika
datang seorang kepadanya seraya berkata; "Wahai Abu 'Abbas, aku adalah
seorang yang mata pencaharianku adalah dengan keahlian tanganku yaitu membuat
lukisan seperti ini". Maka Ibnu 'Abbas berkata: "Aku tidaklah
menyampaikan kepadamu perkataan melainkan dari apa yang pernah aku dengar dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang Beliau bersabda: "Siapa yang
membuat gambar lukisan, Allah akan menyiksanya hingga dia meniupkan ruh (nyawa)
kepada gambarnya itu dan sekali-kali dian tidak akan bisa mendatangkanhya selamanya".
Maka orang tersebut sangat ketakutan dengan wajah yang pucat pasi lalu berkata:
"Bagaimana pendapatmu kalau aku tidak bisa meninggalkannya kecuali tetap
menggambar?" Dia (Ibnu 'Abbas) berkata: "Gambarlah olehmu pepohonan
dan setiap sesuatu yang tidak memiliki nyawa". Berkata, Abu 'Abdullah Al
Bukhariy: Said bin Abi 'Arubah mendengar dari An-Nadhar bin Anas sendirian.
(H.R. Bukhari, Sahih al-Bukhari, 3/82)
Hadis diatas
berisi larangan dan ancaman bagi yang menggambar/melukis, kecuali yang
bernyawa. Dan hadis larangan lainnya yang setema, misalnya
عَنْ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مِنْ سَفَرٍ وَقَدْ سَتَرْتُ بِقِرَامٍ لِي عَلَى سَهْوَةٍ لِي فِيهَا تَمَاثِيلُ
فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَتَكَهُ
وَقَالَ أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ
بِخَلْقِ اللَّهِ قَالَتْ فَجَعَلْنَاهُ وِسَادَةً أَوْ وِسَادَتَيْنِ
Dari Aisyah
radliallahu 'anha skembalinya Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam dari
safar, waktu itu saya telah membuat pembatas (satir) dari kain yang bergambar
dalam ruanganku, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya
beliau langsung memotongnya sambil bersabda: "Sesungguhnya orang-orang
yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang-orang yang membuat
sesuatu yang menyamai ciptaan Allah." Aisyah melanjutkan; "Kemudian
saya membuatnya menjadi satu bantal atau dua bantal." (H.R. Bukhari, sahih
al-Bukhari, No. 5954)
Hadis yang
muqoyyad terkait patung dan gambar
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ
وَأُمَّ سَلَمَةَ ذَكَرَتَا كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا
بِالْحَبَشَةِ فِيهَا تَصَاوِيرُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ
أُولَئِكِ إِذَا كَانَ فِيهِمْ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ بَنَوْا عَلَى
قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكِ الصُّوَرَ أُولَئِكِ شِرَارُ
الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي
شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ
عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُمْ تَذَاكَرُوا عِنْدَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ فَذَكَرَتْ أُمُّ
سَلَمَةَ وَأُمُّ حَبِيبَةَ كَنِيسَةً ثُمَّ ذَكَرَ نَحْوَهُ حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ
قَالَتْ ذَكَرْنَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَنِيسَةً رَأَيْنَهَا بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ يُقَالُ لَهَا مَارِيَةُ بِمِثْلِ
حَدِيثِهِمْ
Dari Aisyah radhiyallahu'anhu
bahwa Ummu Habibah dan Ummu Salamah menyebutkan gereja yang mereka lihat di
Etiopia Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam yang didalamnya terdapat
gambar-gambar. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda,
"Sesungguhnya mereka itu apabila ada seorang laki-laki shalih di antara
mereka lalu dia meninggal, maka mereka membangun di atas kuburannya sebuah
masjid, dan mereka menggambar laki-laki tersebut. Mereka itu adalah
sejelek-jeleknya makhluk di sisi Allah pada hari kiamat." Telah menceritakan
kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid keduanya berkata, telah
menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah
dari Bapaknya dari Aisyah radhiyallahu'anhu "Bahwa mereka saling
menyebutkan hadits dari Rasulullah ketika beliau sakit, lalu Ummu Salamah dan
Ummu Habibah menyebutkan sebuah gereja" kemudian dia menyebutkan hadits
semisalnya.Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada
kami Abu Muawiyah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari
Aisyah radhiyallahu'anha dia berkata, "Para istri nabi
Shallallahu'alaihiwasallam telah menyebutkan kepada kami sebuah gereja yang
kami lihat di tanah Habasyah yang diberi nama Mariyah" semisal hadits
mereka. (Hr. Muslim, Sahih Muslim, 2/66-67)
Terkait patung
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ
كُنْتُ أَلْعَبُ بِالْبَنَاتِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَكَانَ لِي صَوَاحِبُ يَلْعَبْنَ مَعِي فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ يَتَقَمَّعْنَ مِنْهُ فَيُسَرِّبُهُنَّ
إِلَيَّ فَيَلْعَبْنَ مَعِي
Dari Aisyah
radliallahu 'anha dia berkata; "Aku pernah bermain bersama anak-anak
perempuan di dekat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku juga mempunyai
teman-teman yang biasa bermain denganku, apabila Rasulullah shallaallahu'alaihi
wa sallam masuk, mereka bersembunyi dari beliau. Sehingga beliau memanggil
mereka supaya bermain bersamaku." (H.R. Bukhari, sahih al-Bukhari, No.
5665)
Dari sekian
keterangan dengan memasukan yang mutlaq pada yang muqoyyad serta menganalisis
illat pengharaman maka, pada dasarnya gambar dan patung itu mubah saja, maksud
larangan gambar/patung tersebut adalah
1. Gambar yang
dilarang adalah
A. Gambar atau
patung yang dipastikan disembah orang
B. Gambar atau
patung yang di duga kuat disembah orang
Adapun
sebagai tambahan, diluar konteks hadis diatas terkait gambar juga tergantung
konten dan tujuannya. Jika gambar kontennya pornografi, maka tentu haram.
Begitu juga jika tujuannya menggambar untuk kesombongan apalagi untuk menyaingi
ciptaan Allah misalnya. (Gin)
Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Apakah disirkan atau dijaharkan?
Ditulis oleh Taraweh - Wednesday, May 31, 2017. Bacaan Basmalah Dalam Shalat,hukum membaca basmalah dengan sir,Mensirkan bacaan basmalah dalam shlat,Sir Basmalah - No comments
Bacaan Basmalah Dalam Shalat, Apakah disirkan atau dijaharkan?
Deni Solehidin
Pertanyaan :
Baca bismillah ketika shalat bolehkah secara sir? Jadi ketika
menjadi imam di masjid dulunya saya pakai basmalah dan saya jaharkan. Tapi
sekarang setelah saya mendengar Rasul lebih sering secara sir, lalu saya
ikuti. Tapi sekarang saya dipermasalahkan, katanya tidak benar yang saya
lalukan, dan saya tidak diperbolehkan jadi imam. Mohon penjelasannya ustadz.
Paijo, Pematang Siantar
Jawaban :
Untuk permasalahan di atas, terdapat beberapa keterangan mengenai
bacaan basmalah baik dari yang berpendapat disirkan maupun yang
dijaharkan. Untuk pendapat yang disirkan diantaranya hadits
shahih yang bersumber dari Anas bin Malik sebagai berikut :
عَنْ
أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dari Anas RA, dia berkata, "Saya pernah
shalat bersama Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar dan Ustman RA, dan saya tidak
mendengar seorangpun dari mereka yang membaca, 'Bismillahirrahmaanirrahiim' {Muslim
2/12}
زَادَ مُسْلِمٌ:
لَا يَذْكُرُونَ (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ
وَلَا فِي آخِرِهَا. وَفِي
رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ: لَا يَجْهَرُونَ
بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.- وَفِي أُخْرَى لِابْنِ خُزَيْمَةَ: كَانُوا يُسِرُّونَ. وَعَلَى هَذَا
يُحْمَلُ النَّفْيُ فِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ، خِلَافًا لِمَنْ أَعَلَّهَا.
Muslim menambahkan: ‘mereka tidak membaca
‘Bismilahirahmanirahim’ pada permulaan bacaan shalat dan tidak juga di
akhirnya. Di dalam riwayat Ahmad, An Nasa'i, dan Ibnu Khuzaimah yang sama bersumber
dari Anas disebutkan, “mereka tidak mengeraskan bacaan ‘Bismilahirahmanirahim’.
Secara mafhum difahami bahwa mereka bukannya tidak membacanya
sama sekali tetapi tidak membacanya secara jahr sebagaimana dalam riwayat Ibnu Khuzaimah dari Anas juga
disebutkan, ‘Mereka membacanya dengan sirr –tidak keras-. (Subulus Salam,
2/191).
Hadits ini merupakan dalil bagi mereka yang
mengatakan bahwa bacaan basmalah tidak dibaca dengan keras, baik pada awal
basmalah maupun pada ayat setelah basmalah, berdasarkan ungkapan hadits, 'dan
tidak pula di akhirnya. 'Yang maksudnya ialah bacaan Al-Qur'an setelah
bacaan surat Al-Fatihah. Dan mereka yang berpendapat bahwa basmalah dibaca pada
awal Al-Fatihah mengatakan bahwa maksud dari ungkapan mereka bertiga tidak mengeraskan
basmalah ialah mereka membaca dengan suara lirih, sebagaimana yang telah
dijelaskan oleh Ibnu Hajar (Subulus Salam, 2/192).
Namun menurut sumber yang sama yaitu dari Anas
bin Malik dan dari sahabat-sahabat yang lain yaitu di antaranya Abu Hurairah,
Ibn Umar, dan Ibn Abbas serta murid-muridnya yaitu Atho’, Thowus, Mujahid,
Sa’id bin Jubair dan Ikrimah, bahwa Rasulullah saw. membaca dan menjahrkan basmalah.
Sebagai berikut :
عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ بَيْنَ أَظْهُرِنَا إِذْ أَغْفَى
إِغْفَاءَةً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مُتَبَسِّمًا فَقُلْنَا مَا أَضْحَكَكَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آنِفًا سُورَةٌ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ
وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ ثُمَّ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا
الْكَوْثَرُ فَقُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّهُ نَهْرٌ
وَعَدَنِيهِ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ خَيْرٌ كَثِيرٌ هُوَ حَوْضٌ تَرِدُ
عَلَيْهِ أُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ آنِيَتُهُ عَدَدُ النُّجُومِ فَيُخْتَلَجُ
الْعَبْدُ مِنْهُمْ فَأَقُولُ رَبِّ إِنَّهُ مِنْ أُمَّتِي فَيَقُولُ مَا تَدْرِي
مَا أَحْدَثَتْ بَعْدَكَ
Dari Anas RA, dia berkata, "Pada suatu
hari Rasulullah SAW berada di antara kami, tiba-tiba beliau memejamkan mata
{seperti orang mengantuk}, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil
tersenyum, lalu kami bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang menyebabkan anda
tertawa?" Beliau menjawab, "Tadi telah turun ayat kepadaku." Kemudian
beliau membaca, "Bismillaahirrahmaanirrahiim, Innaa
a'thainaakal-kautsar, fa shalli li rabbika wanhar, innasyaani'aka huwal
abtar." {Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha
Penyayang. Sesungguhnya Kami memberikan kepadamu Al Kautsar. Maka dirikanlah
shalat kerena Tuhanmu dan berkurbanlah, sesungguhnya orang yang membencimu
adalah terputus dari rahmat Allah}. Kemudian beliau bertanya, "Tahukah
kamu apa Kautsar itu?" Kami menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui". Beliau bersabda, 'Al Kautsar adalah sebuah telaga yang
dijanjikan oleh Tuhan kepadaku yang berisi kenikmatan yang banyak sekali Itulah
yang didatangi oleh umatku pada hari kiamat, yang bejananya sebanyak hitungan
bintang. Kemudian ada umatku yang dilarang mendekatinya, lalu aku katakan, 'Ya
Tuhan! Sesungguhnya dia adalah umatku! Maka Allah menjawab, 'Kamu tidak tahu
bahwa mereka itu telah membuat ajaran baru sepeninggalmu {Muslim 2/12}
Hadits di atas, walau pun
dibacakan oleh Rasulullah saw. Bukan pada waktu shalat, tetapi menunjukkan
bahwa Rasulullah saw. Membaca basmalah untuk permulaan surah.
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ } بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ { يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ
وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ
dari Qatadah ia berkata; Anas pernah ditanya, "Bagaimankah bacaan
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?" Ia pun menjawab, "Bacaan beliau
adalah panjang." Lalu ia pun membaca: "BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM."
Anas menjelaskan, "Beliau memanjangkan
bacaan, 'BISMILLAH' dan juga memanjangkan bacaan, 'ARRAHMAAN' serta bacaan,
'ARRAHIIM.'" (Bukhori, 6/241).
Hadits di atas secara sharih menunjukkan bahwa Anas mendengar bacaan
Rasulullah saw., yang berarti bacaan basmalah pun dijaharkan.
أَبُو سَلَمَةَ قَالَ: سَأَلْتُ
أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ: " أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، يَسْتَفْتِحُ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَوْ: بِبِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ؟ فَقَالَ: إِنَّكَ لَتَسْأَلُنِي عَنْ شَيْءٍ مَا
أَحْفَظُهُ، وَمَا سَأَلَنِي عَنْهُ أَحَدٌ قَبْلَكَ، قُلْتُ: أَكَانَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي النَّعْلَيْنِ؟ قَالَ:
نَعَمْ "
Dari Abu
Salamah ia berkata, Saya bertanya kepada Anas bin Malik :”Apakah Rasulullah
saw. membuka dengan “Alhamdulillahirobbil ‘alamin” atau dengan "bismillaahirrahmaanirrahiim"
Anas menjawab:
Engkau bertanya mengenai sesuatu yang aku telah lupa, dan tidak ada yang
bertanya mengenai itu selain kamu. Kemudian saya bertanya lagi, “Apakah
Rasulullah saw. shalat dengan memakai kedua sandalnya? Anas Menjawab : Ya.
(Baehaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 2/382).
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ
رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَفْتَتِحُ الصَّلاَةَ بِـ {بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}
Dari
Ibn Abbas ia berkata : Adalah Rasulullah saw. membuka shalat (membaca
Al-Fatihah) dengan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Sunan
Ad Daraqutny, 2/69).
عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى
إِذَا بَلَغَ { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا
سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي الِاثْنَتَيْنِ قَالَ
اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي
لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
dari Nu'aim Al Mujmir dia
berkata; Aku pernah shalat di belakang Abu Hurairah kemudian dia membaca
"Bismillaahirrohmaanirrohiim, lalu membaca surat Al Fatihah hingga tatkala
telah sampai pada 'Ghairil Maghdlubi 'Alaihim Waladlaallin, (bukan orang-orang
yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang tersesat) dia mengucapkan
'Aamiin.' Orang-orangpun lalu mengucapkan Aamiin pula. Abu Hurairah juga
mengucapkan 'Allahu Akbar' setiap hendak sujud, dan bangun dari duduk tahiyyat
pertama. Setelah selesai salam, dia berkata; Demi jiwaku yang berada di
tangan-Nya, Aku adalah orang yang paling menyerupai Rasulullah
Shallallahu'alaihi wasallam dalam shalat.(Sunan An Nasai, 2/134;
Shahih Ibn Huzaimah, 1: 251; Shahih Ibn Hibban, 5: 104; Sunan Ad Daraqutny, 2:
72).
قَالَ نَافِعٌ،
عَنِ ابْنِ عُمَرَ: " إِنَّهُ كَانَ لَا يَدَعُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
لِأُمِّ الْقُرْآنِ، وَالسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا
Nafi’ mengatakan dari Ibn Umar bahwasanya ia
tidak pernah meninggalkan (membaca) "bismillaahirrahmaanirrahiim" untuk ummul Qur’an, dan untuk surat setelahnya.
(Al Baghowy dalam Sarhus Sunnah, 3/57).
عَنْ يَزِيدَ الْفَقِيرِ
أَنَّهُ: سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ، " قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ، ثُمَّ قَرَأَ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ، ثُمَّ قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ،
Dari Yazid Al-Faqir sesungguhnya ia mendengar
Ibn Umar membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim", kemudian membaca Fatihatul Kitab, kemudian
membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim" (untuk surat setelahnya). (Baehaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal
Atsar, 2/375).
عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ :
صَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَجَهَرَ بِ ( بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ)
Dari Sa’id bin Abdurrahman bin Abza dari
bapaknya ia berkata, “Saya shalat di belakang Umar bin Khotob dan ia
menjaharkan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Baehaqy
dalam As Sunanul Kubro, 2/48 dan Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 1/517).
أَنَّ أَبَا بَكْرِ بْنَ حَفْصِ بْنِ
عُمَرَ أَخْبَرَهُ , أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَخْبَرَهُ , قَالَ: صَلَّى
مُعَاوِيَةُ بِالْمَدِينَةِ صَلَاةً فَجَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَلَمْ
يَقْرَأْ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1] لِأُمِّ
الْقُرْآنِ وَلَمْ يَقْرَأْهَا لِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا وَلَمْ يُكَبِّرْ
حِينَ يَهْوِي حَتَّى قَضَى تِلْكَ الصَّلَاةَ فَلَمَّا سَلَّمَ نَادَاهُ مَنْ
سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ: يَا
مُعَاوِيَةُ أَسَرَقْتَ الصَّلَاةَ أَمْ نَسِيتَ قَالَ: فَلَمْ يُصَلِّ بَعْدَ
ذَلِكَ إِلَّا قَرَأَ {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1]
لِأُمِّ الْقُرْآنِ وَلِلسُّورَةِ الَّتِي بَعْدَهَا وَكَبَّرَ حِينَ يَهْوِي سَاجِدًا
". كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ
…bahwasanya Abu Bakar bin hafs bin Umar telah memberi kabar,
bahwasanya Anas bin Malik telah memberi kabar ia berkata, “Muawiyah shalat di
Madinah dan menjaharkan bacaannya dan ia tidak membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim" (Al Fatihah
ayat 1) untuk ummul qur’an dan tidak membacanya untuk surat setelahnya dan
tidak mengucapkan takbir ketika hendak sujud sampai selesai shalat. Setelah
mengucapkan salam, mendengar seperti itu para sahabat dari Muhajirin dan Anshor
menyerunya dari tempatnya masing-masing, “Hai Muawiyah, Engkau telah mencuri
shalat atau lupa? Anas berkata, “maka Muawiyah setelah itu tidak shalat
melainkan membaca "bismillaahirrahmaanirrahiim"(Al Fatihah
ayat 1) untuk ummul qur’an dan untuk surat setelahnya dan mengucapkan takbir
ketika hendak sujud. (Sunan Ad Daroqutny, 2/83, rawi-rawinya semuanya tsiqot).
عَنِ الْأَزْرَقِ بْنِ قَيْسٍ،
أَنَّهُ قَالَ: «صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ الزُّبَيْرِ، فَقَرَأَ فَجَهَرَ بِبِسْمِ
اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ»
Dari Azraq bin qais bahwanya ia telah berkata, “Saya shalat di
belakang Ibn Zubair kemudian ia membaca dan menjaharkan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Sunan Al
Baehaqy Al Kubro, 2/49, dan Ma’rifatus Sunan wal Atsar, 2/376).
وَقَالَ
الشَّيْخُ أَحْمَدُ: وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، يَفْعَلُهُ،
وَكَانَ يُشَبَّهُ فِي حُسْنِ الصَّلَاةِ بِأَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، وَكَانَ
عَنْهُ أَخَذَهَا
Dan berkata
Syaikh Ahmad : Abdullah bin Zubair melakukannya dan dia dalam bagusnya shalat
menyerupai Abu Bakar dan ia mengambil (cara shalat) darinya. (Ma’rifatus Sunan
wal Atsar, 2/376).
عَنْ عَمَّارَةَ : أَنَّ عِكْرِمَةَ
كَانَ لَا يُصَلِّي خَلْفَ مَنْ لَا يَجْهَرُ بِ {بسم الله الرحمن الرحيم}.
Dari ‘Amarah, bahwasanya Ikrimah tidak mau shalat di belakang orang
yang tidak menjaharkan "bismillaahirrahmaanirrahiim". (Ma’rifatus
Sunan wal Atsar, 1/522).
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas dan
lain-lain keterangan yang tidak disebutkan di sini, kami lebih cenderung
memilih yang dijaharkan dengan beberapa alasan sebagai berikut :
1.
Hadits mensirkan dari Anas, telah bertentangan
dengan riwayatnya sendiri dan riwayat-riwayat yang lain.
2.
Riwayat dari Anas berbeda-beda, suatu waktu
meriwayatkan sir, di waktu yang lain meriwayatkan jahr, dan pada kesempatan
yang lain beliau lupa semuanya.
3.
Menjahrkan juga diriwayatkan oleh sahabat yang
lain dan mereka tidak saling menyalahi. Di antaranya riwayat Abu Hurairah
secara marfu’ dan mauquf. Sedangkan dia orang yang paling hafal dan sahabat
Nabi saw. yang datang belakangan. Keterangan lain bersumber dari perbuatan Ibn
umar, sedangkan dia dikenal dengan ta’assy-nya dalam mengikuti sunnah. Begitu juga riwayat
dari Ibnu Abbas.
4.
Selain para sahabat, menjaharkan juga diamalkan
oleh para tabi’in seperti Ikrimah dan Ibn Zubair.
5.
Bahwasanya basmalah merupakan ayat
pertama dari Al-Fatihah. Kalau terus menerus mensirkan, akan
mengakibatkan masyarakat awam akan meninggalkan basmalah. Maka barangsiapa yang
meninggalkan basmalah, ia telah meninggalkan satu ayat dari Al-Fatihah.
Barangsiapa yang meninggalkan satu ayat dari Al-Fatihah maka shalatnya batal,
berdasarkan sabda Rasulullah saw. “Tidak sah shalat, bagi yang tidak membaca
Al-Fatihah”.
Selain keterangan di atas, terdapat keterangan
yang menyatakan bahwa mengapa Rasulullah saw. mensirkan bacaan basmalah,
sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ:كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَأَ: بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، هَزِئَ مِنْهُ الْمُشْرِكُونَ، وَقَالُوا: مُحَمَّدٌ
يَذْكُرُ إِلَهَ الْيَمَامَةِ، وَكَانَ مُسَيْلِمَةُ يَتَسَمَّى الرَّحْمَنَ
فَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ أُمِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لا يَجْهَرَ بِهَا.
Dari Ibn Abbas ia berkata : Adalah Rasulullah saw.
ketika membaca “BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM”, orang-orang
musyrik memperolok-oloknya. Mereka mengatakan, “Muhammad menyebut-nyebut tuhan
Yamamah”, dan dia adalah Musailamah menamai dirinya ar rahman.
Ketika turun ayat {وَلاَ تَجْهَرْ
بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا}., Rasulullah saw.
diperintahkan untuk tidak menjahrkannya. (HR. Thobrani dalam Al Mu’jamul Kabir,
10/132; Mushonnaf Ibn Abi Syaibah, 2/441).
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, terdapat illat mengapa basmalah tidak
dijaharkan. Oleh karena illatnya sudah tidak ada, maka mengapa kita mesti
mensirkan bacaan basmalah, apalagi di depan makmum yang lebih suka
menjaharkan bacaan basmalah. Demikian Wallahu A’lam bis showab.
KAIFIYAT SHALAT JENAZAH
Ditulis oleh Taraweh - Monday, April 27, 2015. JENAZAH,KAIFIYAT SHALAT,KAIFIYAT SHALAT JENAZAH,SHALAT,Shalat Jenazah Dengan Empat Kali Takbir - 1 comment
KAIFIYAT
SHALAT JENAZAH
Oleh : Deni Solehudin
A. Shalat
Jenazah Dengan Empat Kali Takbir
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ
قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ خَرَجَ إِلَى الْمُصَلَّى
فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ أَرْبَعًا
Telah menceritakan kepada kami
Isma'il berkata, telah menceritakan kepada saya Malik dari Ibnu Syihab dari
Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengumumkan kematian An-Najasyi pada hari
kematiannya kemudian Beliau keluar menuju tempat shalat lalu Beliau membariskan
shaf kemudian takbir empat kali. (BUKHARI - 1168).
حَدَّثَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نَعَى النَّجَاشِيَّ فِي الْيَوْمِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ وَخَرَجَ بِهِمْ
إِلَى الْمُصَلَّى فَصَفَّ بِهِمْ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ تَكْبِيرَاتٍ
Telah menceritakan kepada kami
'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari
Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu'alaihiwasallam mengumumkan kematian An-Najasyi, pada hari
kematiannya lalu Beliau keluar bersama mereka menuju tanah lapang kemudian
Beliau membariskan mereka dalam shaf lalu Beliau bertakbir empat kali".
(BUKHARI - 1247).
B. Bacaan-Bacaan
Shalat Jenazah.
1. Takbir
Pertama
Setelah
Takbir pertama bacaan shalat jenazah adalah ta’awudz, al-fatihah, surat, dan
shalawat.
Keterangan
:
a. Dalil
membaca ta’awudz adalah keumuman ayat Al-Qur’an sebagai berikut :
"apabila
kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
syaitan yang terkutuk. (16:98)
b.
Dalil
Membaca al-fatihah dan surat
عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَوْفٍ قَالَ
: صَلَّيْتُ خَلْفَ ابْنِ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
وَسُورَةٍ وَجَهَرَ حَتَّى أَسْمَعَنَا فَلَمَّا فَرَغَ أَخَذْتُ بِيَدِهِ فَسَأَلْتُهُ
فَقَالَ : سُنَّةٌ وَحَقٌّ.
Dari Thalhah
bin Abdullah bin Auf ia berkata, “Saya shalat
jenazah di belakang Ibn Abbas, maka beliau membaca Al Fatihah dan surat dan
menjaharkannya sehingga terdengar oleh kami. Ketika selesai, saya memegang
tangan beliau dan bertanya kepadanya mengenai hal itu. Beliau menjawab, “itu adalah sunnah dan benar”. (HR. An Nasa’i dalam As-Sunanul Kubro, 2:448).
وَلِلْحَاكِمِ مِنْ طَرِيقِ اِبْنِ عَجْلَانَ أَنَّهُ سَمِعَ سَعِيدَ
بْنَ سَعِيدٍ يَقُول : صَلَّى اِبْنُ عَبَّاسٍ عَلَى جِنَازَةٍ فَجَهَرَ بِالْحَمْدِ
ثُمَّ قَالَ : إِنَّمَا جَهَرْت لِتَعْلَمُوا أَنَّهَا سُنَّةٌ .
Berdasarkan riwayat Al-Hakim melalui
jalan Ibn ‘Ajlan
sesungguhnya Sa’id bin Sa’id berkata : Ibnu Abbas shalat
jenazah dengan menjaharkan Al-fatihah, kemudian berkata, “Aku menjaharkan hanyalah supaya kamu
mengetahui bahwa pekerjaan itu adalah sunnah Nabi saw. (Tuhfatul Ahwadzy,
3:84).
c.
Dalil membaca shalawat
عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبُو أُمَامَةَ بْنُ سَهْلٍ : أَنَّهُ
أَخْبَرَهُ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- : أَنَّ السُّنَّةَ
فِى الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ أَنْ يُكَبِّرَ الإِمَامُ ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ
الْكِتَابِ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ الأُولَى سِرًّا فِى نَفْسِهِ ، ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى
النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَيُخْلِصُ الدُّعَاءَ لِلْجَنَازَةِ فِى التَّكْبِيرَاتِ
لاَ يَقْرَأُ فِى شَىْءٍ مِنْهُنَّ ، ثُمَّ يُسَلِّمُ سِرًّا فِى نَفْسِهِ.
Dari Imam Az
Zuhry ia berkata, “Abu Umamah bin
Sahl telah memberitahukan bahwasanya seseorang dari sahabat Nabi saw. telah
memberitahukannya, “Sesungguhnya
sunnah di dalam shalat jenazah itu hendaklah imam bertakbir kemudian membaca
Al-fatihah dengan sir setelah takbir pertama, lalu membaca shalawat atas Nabi
saw. Dan mengikhlaskan do’a untuk jenazah pada takbir-takbir
(yang tiga) dan tidak membaca surat apa pun pada ketiga takbir itu, kemudian
mengucapkan salam secara sir. (H.R. Baehaqie dalam As Sunanul Kubro, 4: 38;
Musnad As Syafi’i: 620).
2. Takbir Kedua
Membaca do’a
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ
وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ
وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ
الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ
وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ
الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
"ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA
'AAFIHI WA'FU 'ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI' MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I
WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL
ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN
AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A'IDZHU MIN
'ADZAABIL QABRI AU MIN 'ADZAABIN NAAR (Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya,
kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat
kembalinya, lapangkan kuburnyak, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang
sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah
membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia-
dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia-
dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik.
Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa
api neraka)." (MUSLIM - 1600)
3. Takbir Ketiga
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا
وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا
اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ
عَلَى الْإِسْلَامِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِيمَانِ
ALLAHUMMAGHFIRLI LIHAYYINA WA MAYYITINA WA SYAHIDINA
WA GHAIBINA WA SHAGHIRINA WA KABIRINA WA DZAKARINA WA UNTSANA (Ya Allah,
ampunilah orang yang masih hidup di antara kami dan orang yang sudah meninggal,
orang yang hadir di antara kami dan orang yang tidak hadir, orang yang masih
kecil di antara kami dan orang yang sudah tua, yang laki-laki dan yang
perempuan kami)
"ALLAHUMMA MAN AHYAITAHU MINNA FA AHYIHI
'ALAL ISLAM WAMAN TAWAFFAITAHU MINNA FA TAWAFFAHU 'LALA IMAN (Ya Allah, orang
yang Engkau hidupkan di antara kami maka hidupkanlah dia dalam (keadaan) Islam,
orang yang Engkau wafatkan dari kami, maka wafatkanlah mereka dalam keadaan
iman) . (TIRMIDZI - 945)
4. Takbir Keempat
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا
وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ
بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا جِئْنَاكَ شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهُ
Ya Allah, engkau adalah Tuhan jenazah
tersebut, Engkau telah menciptakannya, dan Engkau telah memberinya petunjuk
untuk memeluk agama Islam, dan Engkau telah mencabut nyawanya, Engkau lebih
mengetahui terhadap rahasianya dan perkaranya yang nampak. (ABUDAUD - 2785)
5. Salam
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ ابْنِ عَقِيلٍ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيمُهَا
التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi
Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Ibnu 'Aqil dari
Muhammad bin Al Hanafiyyah dari Ali radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kunci shalat adalah bersuci, yang
mengharamkannya (dari segala ucapan dan gerakan di laur shalat) adalah takbir,
dan yang menghalalkannya kembali adalah salam." (Abu Dawud: 56; Baehaqie,
As Sunanul Kubro: 2: 15
عَنْ عَلْقَمَةَ وَالأَسْوَدِ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ : ثَلاَثُ خِلاَلٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَفْعَلُهُنَّ
تَرَكَهُنَّ النَّاسُ إِحْدَاهُنَّ التَّسْلِيمُ عَلَى الْجَنَازَةِ مِثْلَ التَّسْلِيمِ
فِى الصَّلاَةِ.
Dari Alqomah dan Al Aswad dari Abdullah (Ibn
Mas’ud) berkata, “Tiga perkara
yang dikerjakan oleh Rasulullah saw, tetapi ditinggalkan oleh manusia; di
antaranya salam pada shalat jenazah sebagaimana salam pada shalat-shalat
lainnya. (HR. Baehaqie dalam As Sunanul Kubro, 4:43 dan dalam Ma’rifah As Sunan
wal Atsar, 5: 305).